Maya di Balik Layar Ponselnya, Sebuah Perjalanan dari Kegagalan


Maya di balik layar ponselnya





Maya di Balik Layar Ponselnya adalah novel ke-28 yang menurut saya sangat berbeda dengan novel genre teenlit yang pernah saya buat. Ini adalah sebuah eksperimen yang tidak terlalu susah untuk riset karena fenomenanya mudah saya temui yaitu tentang obsesi di medsos dan persaingan antarperempuan.

Novel genre teenlit yang sudah terbit dan bisa dibaca di Ipusnas adalah Promise (Bentang Pustaka, 2020). Sosok utamanya, Ai, menjadi tokoh sentral yang terjebak friendzone dengan sahabatnya di kampus. 

Selebihnya, saya lebih sering menulis cerita dengan genre young adult yang jauh lebih serius. Tentu saja saya harus mengusir logika dan emosi sebagai orang dewasa karena saya sudah lama tidak menjadi remaja labil.

Lewat tulisan singkat ini, saya akan membagikan proses berkarya novel yang dipinang Sonar Pustaka hingga siap dibaca tahun ini.


Berawal dari Ditolak Ketika Seleksi

Ada yang masih ingat dengan platform Storial? Saya dulu menulis banyak cerita di sana. Sayang sekali, platform sekeren itu akhirnya tutup setelah sering menyelenggarakan kompetisi menulis yang bagus-bagus. 

Karya saya pernah sekali menjadi pemenang di sebuah kompetisi flash fiction lalu berturut-turut saya mengunggah novel di Storial untuk mengikuti kompetisi meski belum jadi juara. Sampai akhirnya, saya mengunggah novel yang berjudul Maya's Top Secret.

Novel ini saya unggah di kisaran 2018 sampai 2020. Lupa, sih, kapan pastinya. Tidak lama kemudian, ada tawaran untuk dijadikan novel premium di Storial. Senang dong pastinya. Saya kirimkan naskah ke editor. Tidak butuh waktu lama, novel itu ditolak.


Proses Mengobati Kekecewaan Setelah Ditolak

Jujur saja saat ditolak saya sempat kecewa. Saya merasa jika novel Maya's Top Secret ini punya premis unik. Seorang remaja SMA yang rela mengubah penampilannya secara drastis dengan kemampuan make-up profesional hanya untuk menghapus identitas lamanya. Belum lagi protagonisnya seorang online stalker gadis lain. (Baca Juga: Belajar Menulis Itu Penting Seperti Pelajaran Eksakta)

Storial banyak menghasilkan penulis-penulis keren seperti Kak Triskaidekaman penulis novel Cadl dan masih banyak lagi. Oke, saya tahu diri. Pasti naskah saya masih banyak kurangnya. Inilah yang membuat saya akhirnya melakukan beberapa hal demi keberlangsungan karya.

Mengikuti Kelas 'Save The Cat'-nya Kak Yandi Asd

Meskipun merasa premis, karakter, dan alur sudah lumayan yakin, kalau menerima penolakan, maka tandanya ada kekurangan yang belum saya ketahui. Kebetulan Wordholic Class menyelenggarakan kelas menulis fiksi untuk membuat outline dengan teknik Save The Cat. Kak Yandi saya undang sebagai pemateri.

Kak Yandi ini adalah editor untuk berbagai penerbit dan juga novelnya Voiceless diterbitkan Gramedia. Keren banget. Setelah belajar soal pembedahan outline, saya sadar kalau naskah saya memang banyak kelemahannya meskipun premisnya unik. Ini adalah perjalanan pertama saya.

Merevisi Sambil Menulis Naskah Baru

Revisi pertama hanya sampai tingkat outline dan lima bab awal. Saya lalu fokus mengikuti kompetisi menulis lain. Ini menjadi langkah krusial. Bagi saya, naskah gagal itu sebagai tabungan, bukan untuk dibuang. Hati saya sudah kembali netral dan siap menulis naskah baru sambil aktif menulis untuk klien.


Maya di Balik Layar Ponselnya


Membangun Jejaring

Saya tidak tinggal diam hanya dengan menulis dan ikut kompetisi. Selama menjadi penulis buku, blogger, writing coach dan menulis untuk klien, saya juga membagikan aktivitas menulis di medsos seperti Instagram dan story WhatsApp. Mulai banyak komunitas, penerbit, dan sesama penulis yang berkomunikasi dengan saya hingga terjalin kerja sama.

Bertemu dengan Jodoh Penerbit

Naskah saya yang lain terbit lebih dulu lewat jalur seleksi khusus, kompetisi, dan dipinang penerbit langsung. Di penghujung 2025, saya mendapat tawaran terbit di Sonar Pustaka setelah kami terhubung di Threads. Ini kesempatan menarik buat saya.



Dalam waktu satu bulan, saya menekuni Maya's Top Secret yang saya ganti judulnya menjadi Rahasia Besar Maya. Saya update beberapa bagian dengan fenomena medsos saat ini terutama soal perundungan. Gara-gara fokus, saya menolak beberapa job menulis dari klien. Akhirnya, tahun 2026, novel yang berganti judul menjadi Maya di Balik Layar Ponselnya ini siap bertemu para pembacanya.

Tidak ada yang tidak mungkin. Kegagalan adalah sebuah tanda untuk evaluasi. Sampai tanggal 6 Februari 2026, kamu bisa membeli novel Maya di Balik Layar Ponselnya dengan harga 58000. Bonusnya, kelas menulis gratis. Sekarang, bagaimana denganmu? Tertarik untuk membacanya? Kamu bisa pesan melalui WA di sini.



Tidak ada komentar