Pengalaman Asyik Walking Tour Bareng History Fun Walk Surabaya




Lama sekali saya tidak ikut acara walking tour. Karena sibuk dengan kegiatan literasi yang saya buat di Wordholic Class , saya juga harus mendampingi klien privat yang belajar menulis serta branding. Akhirnya, minggu lalu tanggal 20 September 2026, saya punya pengalaman asyik walking tour bareng History Fun Walk Surabaya.


Ini adalah pertama kalinya saya mengikuti rute yang dibuat oleh History Fun Walk Surabaya. Kenapa akhirnya saya ikut? Tentu saja karena temanya ‘Nyepur Dolan Jajan’.




Kereta adalah kendaraan umum yang paling saya suka. Andai saya bisa ke luar pulau dan negara tetangga naik kereta, pasti saya akan memilih kereta daripada pesawat dan kapal laut. Tiap minggu saya pasti kembali ke rumah dari daerah tempat kerja dengan naik kereta, jadi saya penasaran seperti apa rute kali ini?


Berangkat dari Sidoarjo ke Wonokromo

Saya tidak naik kendaraan pribadi waktu ikut walking tour. Makanya, saya memilih naik komuter dari Stasiun Sidoarjo sampai Stasiun Wonokromo. Berangkat pukul 7.20, komuternya datang tepat waktu sehingga saya tiba di Stasiun Wonokromo pukul 8 lebih sedikit.



Di sini menjadi titik kumpul peserta walking tour. Kejutan pertamanya, peserta mendapat paspor kereta ala-ala bikinan tim History Fun Walk Surabaya. Warnanya pink pula. Lucu banget, ini kan, warna kesukaan saya.


Paspor kereta cute


Kami akan naik kereta menuju Surabaya Kota untuk melanjutkan acara di sana. Saat nama peserta satu per satu disebut untuk melakukan absensi, saya mendengar ada nama orang Jepang yang disebut. 


Wah, tidak disangka, saya bisa ngobrol dengan Kana-san dan suaminya yang mengikuti walking tour bersama-sama. Ini pertama kalinya saya bertemu orang Jepang di Surabaya yang mengikuti walking tour.





Dari Sejarah Kereta Menuju Tempat Belanja Beraneka Rupa

Tidak hanya bertemu kawan seperjalanan baru yang menyukai sejarah dan walking tour, tentunya saya menunggu sesi cerita dari kakak-kakak guide yang akan membagikan fakta sejarah di spot-spot menarik hari itu.

Kereta Api yang Menjadi Bagian Sejarah dari Era Kolonial

Setelah turun di Stasiun Surabaya Kota, saya langsung memotret beberapa bagian stasiun. Maklum saja, ini pertama kalinya saya turun di sini karena saya seringnya naik paling mentok di Stasiun Gubeng. 



Kak Agris menjadi guide pertama yang menjelaskan sejarah stasiun dan perkembangan kereta di Indonesia.

Saya jadi tahu siapa yang meresmikan pembangunan jalur kereta api di Indonesia pertama kali. Orang itu adalah Gubernur Jenderal Hindia Belanda Baron Sloet van den Beele. Ia menjabat sebagai Gubernur Jenderal dari 1861 sampai 1866.

Gubernur Jenderal Van der Beele

Di Desa Kemijen Semarang pada 1864, sang gubernur jenderal melakukan acara seremonial pencangkulan pertama kali pembangunan jalur kereta api pertama Hindia Belanda. Lalu terus berkembanglah jalur tersebut untuk membantu distribusi komoditas perkebunan seperti gula dan peralatan militer. Saat itu sistem tanam paksa (Cultuurstelsel) juga berlaku di Nusantara.

Perusahaan swasta Belanda yang mempelopori pembangunan jalur kereta api pertama ini bernama Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NISM) yang berdiri tahun 1863.

(Baca Juga: Mengintip Jejak Yahudi di Surabaya)


Jalur pertama kereta pada Agustus 1867 hanya dibangun sepanjang 25 km menghubungkan rute Semarang (Kemidjen) ke kawasan Tanggung. Kantor pusat NISM berada di Lawang Sewu, gedung favorit saya di Semarang, nih.




Pada 1875, berdirilah Staatsspoorwegen (SS), perusahaan kereta api milik pemerintah Hindia Belanda (bukan swasta seperti NISM) yang nantinya menjadi cikal bakal dari PT KAI. Jalur pertama dibuat dari Surabaya menuju Pasuruan dengan cabang dari Bangil menuju kota Malang. 


Di Stasiun Kota


Ternyata, jalur utara kereta Jawa saat ini dibuat oleh NISM sedangkan jalur selatan dibangun SS. Setelah Hindia Belanda runtuh, SS diambil alih Jepang dan sempat berganti nama menjadi Rikuyu Sokyuku. Pascakemerdekaan Indonesia, akhirnya menjadi milik pemerintah Indonesia.


Foto dulu sebelum lanjut jalan


Pasar Atom, Tempat Belanja Ikonik Pada Masanya

Dulu, Stasiun Surabaya Kota atau Semut adalah stasiun terbesar di Surabaya. Setelah dikembangkan, Stasiun Semut yang lama ini sekarang ini dipakai untuk logistik, sedangkan Surabaya Kota untuk penumpang. 

Bangunan Stasiun Semut lama


Saya sempat memotret bagian Stasiun Semut lama yang masih kelihatan banget nuansa historikalnya. Dari sini, kami berjalan menuju mal Pasar Atom. 

Tidak ada yang tahu dari mana istilah Pasar Atom itu bermula. Kali ini, Kak Lala yang menjadi guide untuk menjelaskan bagian-bagian menarik dari Pasar Atom. Pada era kolonial, Pasar Atom belum sebagus sekarang. Dulu, tempat itu hanyalah pasar kaget. Penulisan tempat ini pada tahun 50-an disebut Atoom. Kemudian terus berubah hingga menjadi Pasar Atom seperti sekarang.



Pak Harjono Sigit, ayah dari Maia Estianty, menjadi arsitek yang menggagas pembangunan mal Pasar Atom tahap 1 versi modern pada tahun 70-an. Beliau ini dikenal sebagai arsitek kenamaan di Surabaya, lho. 

Ikon Pasar Atom


Kami berkeliling ke beberapa spot penting yang menjadi bagian dari sejarah perkembangan Pasar Atom. Saya memang baru pertama kali ke sini, jadi senang sekali akhirnya bisa berfoto di depan jendela bersejarah dan tangga-tangga ikoniknya.


Spot foto tangga 

Tangga ikonik

Tim History Fun Walk Surabaya juga membagikan voucher Shopee Food untuk kami gunakan. Saya pun membeli beberapa jajanan untuk kudapan saat sedang rehat.

(Baca Juga: Terpesona Dalat Vietnam, Susah Cari Makanan Halal)


Jendela bersejarah

Walking tour bareng History Fun Walk Surabaya memberikan kenangan menarik dan nuansa baru untuk saya. Kalau kamu suka sejarah dan ingin mendengarkan cerita menarik di tempat yang biasanya kamu abaikan, ikuti saja jadwal jalan-jalan bareng tim History Fun Walk Surabaya. Mereka juga punya cabang di Malang dan akan saya ikuti minggu ini.




Tidak ada komentar