Monday, 15 July 2013

Cerita Cinta Rista


“Aku benci banget sama dia. Dia itu cowok yang nggak tahu diri Shel, huhuhu,”
Suara tangisan Rista membuatku sedikit tidak nyaman. Bagaimana tidak, dia menangis terisak dengan mata merah mengerikan dan hidung yang sedikit mengeluarkan ingus di coffee shop yang lumayan ramai pengunjung. Aku menyesap coffee latteku dengan tidak berselera. Aku tidak mengira kalau curhatan Rista kali ini akan berujung dengan tangisan heboh yang begitu mengenaskan.
“Sudah deh Ris. Kamu tahu kan kalau si Bobi itu playboy sejak kalian belum resmi pacaran. Mungkin kamu terpikat dengan gayanya yang elegan dan jabatannya yang tinggi di perusahaannya. Tapi lihat deh, udah berapa kali kamu diduain sama dia? Punya cowok yang nggak setia dan sering dapet tugas ke luar kota itu rawan terjadi perselingkuhan. Harusnya kamu sadar sejak awal.” Aku berusaha menenangkan Rista yang masih menangis sesenggukan sambil menelungkupkan wajahnya di atas meja.
“Kamu nggak tahu, sih kalau aku udah cinta mati sama Bobi. Tiap kali dia ketahuan selingkuh, aku selalu marah dan minta putus, tapi besoknya pasti dia kembali dengan meakukan hal-hal yang membuatku luluh. Dia itu baik banget Shel. Dia nggak pernah ngomong kasar dan main tangan sama aku,” celoteh Rista masih sibuk dengan tisu-tisu yang ia genggam dan sudah basah air mata.
Selalu seperti ini. Tiap kali Rista bermasalah dengan Bobi, pacarnya yang belum pernah aku kenal karena kesibukannya sebagai general manager di perusahaan otomotif  terkemuka sehingga menuntut Bobi untuk sering ke luar kota. Aku juga tak terlalu ingin mengenal Bobi. Bayangkan selama enam bulan pacaran, sahabatku Rista sudah diselingkuhin lima kali. Rista selalu curhat padaku, tetapi semua nasehatku hanya dianggap angin lalu. Percuma dong kalau aku kasih nasehat tapi ujung-ujungnya dia kembali lagi ke pelukan Bobi Buaya Kampung itu. Sebal rasanya, karena aku seolah menjadi tong sampah yang curhatan Rista.
“Kamu nggak bisa ngerasain apa yang kurasain sih, Shel. Kamu kan sekarang jomblo, jadi kamu nggak ngerasain sakitnya yang aku rasain,”
Selalu begini. Aku disalahkan karena aku jomblo. Helloo, sadar nggak sih kalau jomblo itu lebih baik daripada punya pacar tapi nggak tahu adat macam Bobi begitu. Aku mengalihkan pandanganku ke arah lain. Kesal sekali melihat Rista yang berbicara menyebalkan seperti itu. Pengunjung coffee shop yang duduk tak jauh dariku melihatku dengan tatapan iba. Aku tak tahu apakah tatapan iba itu karena simpati padaku atau merasa iba pada Rista yang terlihat begitu dramatis dengan tangisan bombay-nya.
“Shela, kamu kok malah lihat ke arah lain sih. Kamu dengerin aku nggak sih?” desis Rista dengan raut wajah semakin mengerikan. Maskara dan eyelinernya luntur karena air mata. Wajahnya yang putih, mulus dan ayu itu menjadi seperti wajah hantu yang sering aku lihat di film horor amatir Indonesia.
“Aku tetep dengerin kamu kok. Nah sekarang apa keputusan kamu. Kamu kan denger sendiri dari Bobi kalau dia pengen hidup dengan orang lain tapi orangnya itu bukan kamu. Diambil hikmahnya aja, lebih baik kalian berpisah sekarang daripada nanti kamu menikah dengan dia tapi pastinya akan lebih sakit hati lagi dengan kelakuan belangnya,” ujarku berusaha bersuara lembut sembari mengusap pergelangan tangannya.
Tangisan Rista semakin melembut. Kemudian ia meminum perlahan hot chocolate-nya,”Aku emang shock banget. Jujur aku pengen tahu siapa cewek yang udah bikin Bobi bener-bener lari berpaling dari aku. Selama ini tiap kali dia selingkuh, dia selalu meminta maaf dan memohon untuk balikan.” Rista berbicara lagi dengan mata menerawang.
‘Mana kutahu? Itu bukan urusanku. Mau si Bobi kawin sama janda kek, mau nikah sama polwan kek, aku sih nggak peduli!’ batinku gemas.
Pintu kafe yang terbuat dari kaca berderit terbuka. Masuklah seorang pria tampan dengan gaya metropolis duduk di seberang mejaku dengan Rista.
“Hai Rista, Shela. Lagi nongkrong nih,” sapa Alex dengan nada kemayu. Dia adalah rekan kerjaku di kantor yang juga mengenal Rista.
“Biasalah, girl’s day out. Kamu sendiri ngapain ke sini. Mau kencan ya?” tanyaku dengan senyum penuh arti. Alex ini walau tampangnya keren, tapi sebenarnya dia adalah seorang gay sejati. Awalnya Rista sempat naksir dengan Alex, namun setelah tahu kalau Alex seorang gay, dia segera mundur teratur.
“Iya. Ehm kencan dengan someone spesial,” jawab Alex malu-malu.
Beberapa menit kemudian pintu coffee shop terbuka kembali. Masuklah pria tampan dengan kulit coklat yang macho lalu duduk di samping Alex. Gila nih Alex, pacarnya ternyata sekeren ini.
“Bob..Bobi..,” ujar Rista terbata-bata.
Cowok macho itu menoleh dan wajahnya pias melihat Rista,”Beibh, kamu kenal sama mereka? Mereka ini temen-temenku loh,” Alex menggelayut manja di lengan Bobi.
Aku hanya ternganga melihat adegan ini. Rista berdiri lalu berlari pergi, sedangkan Bobi masih terpaku di tempat duduknya tanpa bisa bicara apa-apa. Ah, dunia memang sudah gila.

No comments:

Post a Comment

mohon memberi komentar dengan sopan dan tidak mengandung SARA .. terima kasih telah berkunjung ^_^