Sunday, 15 September 2013

Heartbeat And Brokenheart

Aku mengaduh. Hatiku berdenyut gugup. Tak ada dia. Aku limbung dalam peraduanku yang gelap karena cahaya lampu kamar tak kunyalakan sama sekali. Air mataku mengalir deras bak air bah. Sejam yang lalu sosokku berubah mengerikan seperti monster. Mataku menyala marah dan aku menyemburkan nafas kemarahan yang menjilat habis tubuh dan terutama hatinya.
“Aku membencimu. Aku ingin lepas darimu. Kamu tak pernah mengerti apa mauku. Aku sangat ingin pergi darimu!!” teriakku dengan penuh amarah pada Sota, kekasih sekaligus calon suamiku.
Hari ini Sota terlambat datang ke acara ulang tahunku yang kedua puluh lima. Ia sedang sibuk dengan pekerjaannya di kantor. Selama ini Sota selalu rela menyisihkan waktu di sela-sela kesibukannya demi menemaniku. Aku dan Sota sudah menjalin kasih selama hampir empat tahun dan kamipun telah bertunangan. Dua bulan lagi kami akan melangsungkan pernikahan di Hokkaido, tempat dingin kampung halaman Sota dan aku.
Entah setan apa yang menguasaiku hari ini. Sudah hampir sebulan ini aku begitu gelisah dan tak tenang. Semua ini bukannya tanpa sebab. Sudah beberapa kali Sota membicarakan Hasegawa Riku, rekan kerja barunya yang dimutasi dari kantor cabang di Tokyo. Sota bekerja dalam satu divisi yang sama dengan Riku. Kata Sota, Riku adalah gadis manis yang berperangai lembut dan sangat cerdas. Awalnya aku tak begitu peduli dengan cerita Sota mengenai Riku, namun lama-kelamaan perasaan cemburu itu mulai menguasai hati kecilku.
Riku-chan wa totemo kawaiine, dia sangat manis. Banyak sekali kawan-kawan pria di kantorku yang berebut perhatiannya. Lucu sekali kalau melihat kelakuan aneh mereka,” ujar Sota suatu hari di tengah acara makan malam rutin kami.
“Kenapa Sota memanggil nama belakangnya saja? Apa hubungan kalian sudah begitu akrab sampai bisa saling memanggil nama belakang saja?” tanyaku curiga.
Sota memandangku lembut. Ia mengacak rambut ikalku dengan gemas,”Hei, hei yakimochi shinaide Yuri-chan. Aku dan Riku hanya berteman akrab. Bekerjasama dengan Riku itu sangat menyenangkan, tenang saja aku tidak akan tergoda seperti kawan-kawanku lainnya, sorenara ki ni shinaide,”
Aku tersenyum simpul dan hatiku agak sedikit terhibur mendengar perkataan Sota dan tatapannya yang sangat meyakinkan. Tapi geliat kecemburuan itu semakin meraja, apalagi ketika Sota mulai sering sekali lembur karena deadline perusahaan. Bayangan ia bekerjasama hanya berdua dengan Riku membuat dadaku serasa sesak. Aku mulai sering menunjukkan perilaku di luar kewajaran. Aku ingin selalu bertemu Sota dan mendengar suaranya. Padahal sebelumnya aku adalah wanita yang cenderung tidak  memiliki sifat posesif.
Tanpa sadar aku sering membandingkan diriku dengan Riku. Aku hanyalah gadis sederhana yang bekerja di balik meja sebagai mangaka. Sudah banyak manga atau komik laris yang kuhasilkan dan kebanyakan beraliran shoujo manga. Walaupun sudah banyak karya laris yang kuhasilkan, aku masih terlalu pemalu untuk bertemu dengan penggemar. Oleh karena itu aku menggunakan nama pena Yurisa dan sebisa mungkin menghindari acara bertemu fans terlalu sering.
Aku dan Sota tinggal di sebuah flat sederhana di kawasan Osaka. Letak flat kami hanya berjarak sekitar 45 menit perjalanan dari Kansai Kuukou, bandara internasonal Osaka. Aku sangat beruntung bisa memiliki Sota sebagai calon suami. Berbeda denganku yang sangat sederhana, bagiku Sota adalah sosok sehangat matahari yang membawaku ke dunia yang lebih terang. Tetapi sejak kemunculan Riku, entah kenapa perasaan-perasaan minder, cemburu dan marah mulai menguasai duniaku yang selama ini tenang tak mudah terusik apapun.
Puncaknya adalah peristiwa hari ini. Hari ini adalah pesta ulang tahunku yang rencananya akan kurayakan dengan Sota secara sederhana. Aku telah bersiap sejak pagi. Kutunda sementara semua pekerjaan menggambar mangaku dan pergi berbelanja bahan makanan untuk membuat masakan favorit Sota, mi shoyu ramen dan okonomiyaki. Cuaca musim gugur yang mulai sejuk dan membawa sedikit hawa dingin menurutku akan sangat cocok dihangatkan dengan makan makanan yang serba hangat entah itu sup atau panggangan.
“Hari ini aku akan pulang pukul tujuh malam, jadi tolong sabar menungguku ya,” janji Sota melalui telepon. Aku mengiyakan dengan riang, tak sabar untuk merayakan hari istimewaku bersama Sota.
Aku sengaja mengendarai sepeda menuju supermarket untuk membeli segala macam bahan makanan. Pohon-pohon sakura yang telah kehilangan bunga dan daunnya, menambah syahdu suasana pagi hari yang sejuk dengan ornamen langit biru bercorak sedikit keemasan karena sinar matahari. Kilasan-kilasan kenangan berkelebatan di benakku mulai dari saat aku pertama kali bertemu dengan Sota di kampus dan ternyata kami sama-sama berasal dari Hokkaido. Aku mengambil jurusan desain grafis sedangkan Sota mengambil jurusan teknik sipil. Tak terasa sebentar lagi kami akan menikah. Debar jantungku berlari begitu cepat seolah kami baru saja bertemu.
Jam-jam berlalu dengan lambat. Sudah pukul tujuh malam namun Sota belum juga datang. Beberapa menit setelah jarum panjang bergerak ke angka satu, telepon genggamku berdering,”Moshi-moshi, Yuri, maaf aku terlambat mengabari. Hari ini ada masalah teknis di kantor, jadi mungkin aku baru bisa datang sejam lagi,” ujarnya dengan nada bersalah.
Souka, wakatta. Nanti aku hangatkan lagi mi shoyu ramen dan okonomiyakinya lagi sambil menunggu kamu datang, Sota,,” belum sempat aku menyelesaikan ucapanku, terdengar suara lembut wanita yang memanggil Sota.
“Sebentar ya Riku-chan, aku akan segera membantumu. Yuri sudah dulu ya, aku harus segera menyelesaikan pekerjaanku agar kita bisa segera bertemu,”
Aku menjawab lemah. Perasaan kecewa menggumpal di dadaku. Bukan karena keterlambatan Sota karena aku mengerti dengan kesibukan pekerjaannya tetapi suara lembut Riku yang saat ini sedang bersamanya di kantor. Aku merasa Sota semakin senang bersama Riku dibanding bertemu denganku. Bayangan-bayangan mereka duduk berdampingan dengan siku bersentuhan dan tatapan mesra amat menggangguku. Ah, perasaanku semakin kacau dan gelisah. Aku takut Sota saat ini sedang berbohong agar kebersamaannya dengan Sota bisa berjalan lebih lama.
Satu jam berikutnya Sota pulang dengan wajah lelah namun masih ada sorot mata hangatnya. Aku menunggu di depan meja makan dengan kaku dan kesal. Sota mengetahui perubahan emosiku. Ia meminta maaf atas keterlambatannya. Aku memejamkan mata dan akhirnya ledakan amarah keluar tanpa sempat kusadari. Aku bilang kalau aku membencinya, aku membenci pekerjaannya, aku membenci Riku, dan aku lelah karena terlalu lama menunggu. Sota hanya diam. Aku masuk ke dalam kamar dan membanting pintu. Kudengar pintu depan dibuka dan berikutnya suasana hening seketika.

***
Aku tertidur tapa kusadari. Dering jam beker yang memekakkan telinga membuatku terjaga. Masih pukul enam pagi. Lubang di hatiku menganga lebar. Aku amat menyesali semua ucapan burukku terhadap Sota. Kutelpon ia tapi tak ada nada sambung, ponselnya dimatikan. Aku segera keluar kamar tetapi tak ada tanda-tanda keberadaan Sota. Sekali lagi aku menangis dalam diam. Baru kali ini aku berkata sekejam itu. Pandanganku buram dan ulu hatiku terasa nyeri. Intuisiku mengatakan kali ini aku akan kehilangan Sota untuk selamanya.
Aku beranjak bangun. Segera kusiram tubuhku dengan air dingin untuk mendinginkan perasaanku, hasilnya nihil. Aku berganti pakaian dengan cepat dan berjalan keluar flat. Aku terus bergerak karena aku takut jika aku berhenti maka air mataku akan kembali tumpah. Aku pergi ke stasiun dan membeli karcis menuju Kyoto. Hanya satu tempat yang saat ini ingin kukunjungi di Kyoto, yaitu Kiyomizudera. Kurang lebih setengah jam berikutnya aku telah sampai di Kyoto lalu aku melanjutkan perjalananku dengan bus. Jantungku berdetak semakin cepat, campuran antara kesedihan dan rasa takut kehilangan.
Pohon-pohon yang meranggas dan daun-daun berubah warna di sepanjang perjalanan seolah turut menyemai kekalutan dalam hatiku. Apakah kisahku akan sama dengan pohon-pohon itu? Berubah warna, mungkin tampak indah dipandang mata tetapi perlahan gugur seperti daun dan bunga yang putus asa. Sesampainya di Kiyomizudera aku melangah lambat sembari mengisi rongga paru-paruku dengan nuansa dingin bercampur sejuk dari alam. Di sinilah tempat dimana aku dan Sota biasa melakukan momijigari. Kami akan berlomba-lomba memotret daun-daun momiji yang berubah warna dan bersaing menghasilkan potret yang paling indah.
Kiyomizudera menjadi tempat favorit kami untuk menikmati kouyou hampir tiap tahun. Aku tak tahu mengapa tiba-tiba saja ingin pergi ke tempat ini. Di sinilah Sota melamarku setahun yang lalu. Waktu itu adalah bulan September paling indah dalam sejarah hidupku.
“Kita sama-sama terlahir di bulan September, kita sama-sama menyukai musim gugur, dan sekarang aku ingin sekali menjadikanmu sosok abadi yang akan menemaniku menikmati semua hal-hal favorit kita,” kata Sota seraya melingkarkan sebuah cincin manis di jari manisku.
Kenangan itu menghentikan langkahku. Aku melihat sekeliling. Semua orang sedang terpesona dengan pemandangan indah. Daun-daun yang gugur menutupi jalan dan membuatnya menjadi hamparan permadani daun yang indah dan eksotis. Seharusnya aku berbahagia sekarang. Seharusnya saat ini aku sedang menggenggam erat tangan Sota. Aku merasa hina. Aku membiarkan kecurigaanku tumbuh tanpa kukontrol sendiri hingga melukai orang yang paling kucintai.
Sampai petang hari aku membaur bersama pengunjung lainnya di area Kiyomizudera. Aku menunggu pertunjukan light-up yang sering diadakan di musim gugur. Cahaya warna-warni menghiasi pemandangan gelap dan menimpa kuil. Tubuhku lemas karena sejak pagi aku tak berselera untuk mengunyah makanan. Ponselku bergetar, kulihat ada panggilan masuk dari Sota.
“Halo, halo. Sota. Kumohon maafkan aku. Aku sama sekali tak bermaksud berkata sekeji itu. Kumohon jangan pergi, jangan katakan kau akan pergi,” aku langsung memberondong Sota setelah kujawab panggilan teleponnya.
Sota tak langsung menjawab. Aku ketakutan menunggu jawaban darinya,”Sekarang kamu ada di mana?” tanyanya singkat.
“Aku di Kiyomizudera. Aku sedang menelusuri kembali jejak kenangan kita. Kumohon jangan pergi, maafkan kesalahanku kemarin walaupun mungkin telah sangat melukaimu,” pintaku memelas.
“Kembalilah, ini sudah terlampau malam,” Sota menutup pembicaraan dan menyelesaikan panggilan teleponnya.
Aku berlari seperti kesetanan. Aku tak boleh salah lagi. aku harus merengkuh cintaku kembali. Aku tak tahu apakah Sota akan menerima permintaan maafku atau tidak, tetapi yang paling penting aku bisa melihat wajahnya dan memeluknya. Debar di jantungku ini tidak berbohong. Aku sangat mencintainya. Aku sangat merindukannya sampai aku mampu berbuat gila dan telah menyakitinya. Sota, akan kutempuh jalan kembali. Akan kutemukan makna musim gugur kita lagi. Bukan lagi rasa patah hati.




GLOSARIUM
1.      Riku-chan wa totemo kawaiine : Riku itu sangat manis lho
2.      Yakimochi shinaide : jangan cemburu
3.      Sorenara ki ni shinaide : jadi janganlah khawatir
4.      Moshi-moshi : halo (saat melakukan panggilan telepon)
5.      Souka, wakatta : oh begitu, aku mengerti
6.      Momijigari : disebut juga aktivitas memburu daun merah. Atau menikmati perubahan warna daun momiji (maple) saat musim gugur
7.      Kouyou : perubahan warna daun
8.      Mangaka : komikus
9.      Shoujo manga : komik untuk remaja cewek

  

2 comments:

  1. Nyimak aja ya gan :)
    Sukses terus buat Anda :D

    ReplyDelete
  2. Waah mbak, keren skli ceritanya..
    Pandai bhsa jepang pulaa (y)..
    Memang kl sdh dekat, hnya manggil nama blkangnya sj ya? Knp mb?

    ReplyDelete

mohon memberi komentar dengan sopan dan tidak mengandung SARA .. terima kasih telah berkunjung ^_^