.comment-content a {display: none;}

Monday, 26 December 2016

Tatapan Mata untuk Aira

Diposkan oleh Reffi Seftianti di 15:00
Response 
Maskara. Alis yang baru disulam. Tubuh yang baru saja diberi lulur tradisional. Bahan-bahan itu semua sudah menempel di wajahku dan menjadikannya indah. Mata-mata itu akan mengagumiku. Memenuhi memoriku dengan senyum iri mereka atau mungkin yang bergairah ingin melahapku dari ujung rambut sampai ujung jempol kaki.

“Hanya untuk ke acara amal, kenapa kamu pakai make up lengkap?” Dara, adikku satu-satunya yang lebih suka berpetualang di gunung daripada memakai make up, lagi-lagi mengkritikku.

“Aku ini public figure, Ra. Jadi harus jaga penampilan. Apa kata orang kalau aku keluar dengan penampilan asal-asalan,”

Sore ini adalah acara amal yang diselenggarakan manajemenku untuk menaikkan pamorku sebagai bintang film. Aira Milena, seorang bintang film lajang yang bersinar di usia muda dan juga memiliki hati emas. Wow, sebuah personal branding yang bagus untuk karirku nanti.

Anak-anak panti asuhan berbaris rapi menunggu dibagikannya makanan dan juga perlengkapan sekolah baru yang membuat mata mereka berbinar. Mata-mata polos itu kagum pada pakaian indah dan juga tubuhku yang wangi.

“Cantiknya, tantee, kaya bidadari,” seloroh beberapa anak-anak yang mungkin hobi menonton televisi.

Jepretan kamera wartawan membuatku tertawa. Ya, ayo ambil foto sebanyak mungkin. Katakan pada dunia kalau hatiku serupa emas. Aira Milena yang sering disebut artis aji mumpung ini juga punya kepedulian sosial yang tinggi. Itu kata kamera. Aslinya aku berusaha menahan mual tiap kali berdekatan dengan anak-anak panti yang tidak semuanya terurus baik. Panti asuhan ini kelihatannya kurang donatur. Anak-anak bersekolah saja tanpa mendapat pakaian dan juga fasilitas layak.

“Tante, makasih ya,” sebuah suara jernih menarik telingaku. Dan kulihat mata itu. Satu mata paling bening yang membuatku gemetar.

Sampai aku pulang ke rumah, mata bocah perempuan tadi masih membuat kepalaku pusing. Mata itu, mata bening itu, sangat kukenal. Lalu aku bercermin. Mata tadi mirip mataku. Dialah bayi kecil yang dulu pernah kubuang di depan teras panti asuhan.

2 komentar:

Koki Lucu on 27 December 2016 at 01:22 said...

Aduh, endingnya nyesek banget. :(

hilmi25 on 1 January 2017 at 08:30 said...

websitenya mantap artikelnya juga keren gan hhe .. bisa kunjungi web ku juga www.afganihilmi.com semoga punyaku juga bermanfaat

Post a Comment

mohon memberi komentar dengan sopan dan tidak mengandung SARA .. terima kasih telah berkunjung ^_^


 

Kata Reffi Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos

badge