.comment-content a {display: none;}

Tuesday, 6 June 2017

Bukber: Ajang Silaturahmi Jangan Menjadi Ajang Menyombongkan Diri

Diposkan oleh Reffi Seftianti di 02:11
Response 


Bukber bareng adalah momen yang sering dilakukan di bulan Ramadhan. Siapa sih yang tidak pernah mendapatkan undangan bukber? Namanya bulan puasa, rasanya kurang afdol jika tidak diselingi dengan acara bukber alias buka bareng. Tapi merasa nggak sih kalau undangan bukber bareng yang bertumpukan tersebut juga bisa menjadi sumber stres baru?  Ada salah satu rekan kerja saya yang pernah berseloroh,”Bulan Ramadhan bukannya uang kita bisa hemat, eh ujung-ujungnya malah bikin kantong jebol. Salah satunya karena kebanyakan jadwal bukber bareng,”

Kalau boleh jujur, saya termasuk yang cukup sependapat dengan kalimat rekan saya tersebut. Meskipun saat ini saya masih lajang, saya benar-benar memiliki pemikiran matang soal uang. Saya menyisihkan dana untuk menabung, dana untuk biaya hidup selama satu bulan plus biaya kos dan sedikit-sedikit memberi untuk orang tua ataupun adik. Banyak yang mengatakan kepada saya jika hobi traveling itu malah menghabiskan biaya besar  tetapi saya malah pilih-pilih datang di undangan bukber. 

Jawabannya adalah, untuk pos traveling, saya mengambilnya dari kerja freelance sebagai blogger, buzzer atau content writer.  Memilih untuk tak selalu memenuhi undangan bukber adalah hak personal. Saya memilih untuk mengikuti bukber sesuai dengan feeling dan juga unsur manfaatnya.

Jujur saja, beberapa kali mengikuti bukber bareng, tak selalu memuaskan hati saya. Setelah makan bersama, masing-masing peserta sibuk dengan gadget lalu dimulailah percakapan sensitif yang membuat saya semakin jengah.

“Kenapa kamu nggak nikah juga?”

“Kenpa kamu putus sama si A?”

“Eh, kamu kerja di sini ya? Gajinya gede tuh, traktir-traktir kita sesekali doong,”

“Emang kalau nulis itu dapat bayaran apa?”

“Kenapa kamu nggak ganti hape baru sih?” dan komentar lainnya yang sedikit menyebalkan.

Pamer gadget, pamer pekerjaan, pamer kendaraan adalah hal yang lantas menjadi atmosfer. Dan sebagai bukti kehangatan hanyalah swafoto bersama. Lalu beres, pulang. Tanpa kesan.

Seharian berpuasa, kita berperang melawan hawa nafsu dan lapar juga dahaga. Salahnya, seringkali dikonotasikan jika sudah waktunya berbuka, maka kita bebas melepas apa saja yang seharusnya ditahan saat masih jam berpuasa. I’m not a holy person, it is a big NOT. Tapi saya hanya ingin menikmati waktu bersama kawan-kawan yang lama tidak berjumpa, hangat dan larut dalam dialog penuh motivasi, bahkan akan lebih baik lagi jika dalam ajang ini seseorang bisa membantu kesulitan kawan lamanya. Bukannya saling pamer, lalu saling menyindir. Sebuah sindiran meski dibalut dalam candaan tetaplah bisa berpotensi menyinggung.

bukber bareng

Jadi jika ada yang mengundang saya bukber bareng, jangan tersinggung jika saya tak selalu bergabung. Saya pasti akan lebih mengutamakan buka bersama sahabat terdekat dari SMU, kuliah dan di tempat kerja yang jumlahnya tidak lebih dari enam hingga tujuh orang secara keseluruhan. Lebih seringnya lagi saya akan memilih untuk berbuka bersama keluarga di rumah sebab saya tinggal di kos dan jarang bertemu keluarga. Kalaupun saya bergabung dalam bukber sebuah komunitas, pasti komunitas tersebut sudah menjadi tempat saya memiliki ‘keluarga’ hangat di tengah masyarakat. It is just the matter of ‘comfortable thing’
(Baca Juga: Tips Ngabuburit Irit)

Sebelum mengadakan acara bukber, tentunya panitia dapat mengondisikan bahwa tujuan diadakannya acara adalah sebagai sarana saling bersilaturahmi, saling mengetahui kabar tanpa membuat risih, dan pastinya bukan hanya ajang untuk datang-makan-ngobrol sebentar-lalu pulang setelah foto bersama. Harus ada rasa kekeluargaan serta kenyamanan di dalamnya. Dan bagaimana kalau saya dan anda yang memulainya? Belajar tidak mendiskreditkan orang lain lewat komentar berbalut canda. It is not easy, but we should try.

4 komentar:

Tira Soekardi on 10 June 2017 at 23:31 said...

betul ya, dan aku sih suak sebel kalau ditanya anaknay sdh nikah belum???, yg kecil sdh selesai kulaihnya belum, heee, aku jarang reuni deng krn jauh di luar kota reuniannya

Imaniar Hanifa on 11 June 2017 at 04:30 said...

Bener sih, makin ke sini membatasi kegiatan bukber. Cuma komunitas tertentu, temen-temen alumni, dan teman kerja. Paling bener malah harusnya buka bersama keluarga, tau sendiri selama muda banyak menghabiskan waktu di luar dan malah kurang interaksi dengan orang rumah atau tentangga.

Anyway bukannya bukber udah artinya buka bersama ya? Kalau bukber bareng = buka bersama bareng dong :))

Reffi Seftianti on 11 June 2017 at 06:56 said...

hihi pakai istilah bukber bareng sih biasanya mbak,,salah konteks ya :D....tapii, memang bukber emang kadang kehilangan esensinya

Agustina Purwantini on 14 June 2017 at 20:54 said...

yup yup...sejujurnya bukber ternyaman yang kurasakan (selain bukber dg kluarga) ya klo bukber di mushola kampung sendiri... diawali pengajian, saling silaturahmi antartetangga, laly buka sekadarnya, sholat magrib bareng, nerima nasi bungkus, maem di situ atu pulang bagi yg buru2,... afdal.

Post a Comment

mohon memberi komentar dengan sopan dan tidak mengandung SARA .. terima kasih telah berkunjung ^_^


 

Kata Reffi Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos

badge