Pada sisa separuh libur lebaran lalu, saya dan satu sahabat saya yang juga sekantor, Devi, merencanakan untuk liburan berdua ke sebuah kota yang belum pernah kami datangi. Keputusan ini pun sebearnya tidak murni terpikirkan sejak kami hendak memutuskan akan berlibur. Awalnya, saya ingin berpetualang di kota Yogya, apalagi Devi juga sudah pernah berkelana dengan motor dan lumayan paham seluk beluk kota Yogya.
Rupanya, takdir menyatakan kalau tiket pada tanggal 10, 11, dan 12 Juli sudah habis untuk keberangkatan dengan kereta ke Yogya. Cemas? Iya, saya sudah sedikit cemas dan takut tidak bisa berlibur dengan asyik. Akhirnya entah mendapat ide nyleneh dari mana, kami berdua sepakat untuk berlibur berdua saja ke Semarang.
Yang kami lakukan pertama kali adalah mencari objek wisata apa saja yang menarik di kota yang dikenal sebagai kota lumpia itu. Mulai dari mencari info di fanpage Facebook sejenis ‘Semarang Punya Cerita’, baca-baca blog yang membahas traveling di Semarang sampai tanya atasan, hehe. Setelah dirasa cukup paham, mulailah kami bergerilya mencari tiket kereta api. Karena kami berusaha traveling dengan budget seekonomis mungkin, pilihan untuk transportasi nyaman dan terjangkau adalah kereta api ekonomi. Saran saya carilah tiket kereta minimal 3 minggu sebelum keberangkatan, malah jika mendekati hari libur bersama lebih baik satu bulan sebelum agar tidak kehabisan.
Setelah tiket didapat, saya mencari referensi hotel. Website Traveloka banyak membantu karena pilihan rate harga dari yang paling murah sampai paling mahal sudah tersedia. Setelah melakukan pemesanan dan melakukan transfer, praktis untuk penginapan sudah aman. Kami memilih Omah Djari Guest House, sebuah penginapan berbasis syariah di Jalan Wiroto No.3 dekat dengan kawasan Lawang Sewu. Tidak sampai 300 ribu per malam, saya mendapatkan kamar dengan satu bedroom besar yang bisa ditempati sampai 3 orang, televisi LCD, kamar mandi dalam dengan shower, fasilitas wifi yang super kencang dan juga sarapan pagi. Komplit kan? Harganya juga tidak terlalu mahal dengan fasilitas sebagus itu. Selanjutnya kami memesan motor untuk tiga hari. Di sini saya memilih Asharent. Asharent termasuk memiliki pelayanan dan respon yang bagus terhadap calon penyewa. Saya sudah beberapa kali mencari info bahkan menghubungi jasa sewa motor lain di Semarang sesuai petunjuk Google, tetapi responnya sangat lambat sekali. Kondisi motor yang disewa pun cukup baik, dan penyewa mendapatkan fasilitas jas hujan, masker serta helm. Sewa untuk hari pertama sebesar Rp 70,000 lalu hari berikutnya sebesar 60,000 saja.
Di tanggal 10 Juli 2016 lalu, saya dan Devi berangkat dari Stasiun Pasar Turi Surabaya. Kami belum punya tujuan yang jelas di hari pertama. Lama waktu perjalanan adalah 4,5 jam sampai Stasiun Tawang Semarang, dan motor kami sudah diantar oleh staf Asharent di stasiun. Di hari pertama ini, kami mencari makan siang dulu, lantas pilihan pertama kami adalah Mi Kopyok. Hmm, rasanya lezat namun kita tidak bisa makan lama-lama karena Mi Kopyok Pak Dhuwur di Jalan Tanjung Semarang ini sangat laris dipadati pembeli. Perpaduan kerupuk, tahu dan juga mi dengan bumbu tidak terlalu pedas serta ada sensasi asam manisnya rupanya membuat  tempat ini ramai.
Berikutnya kami cek in di hotel dan menyusun rencana perjalanan untuk sore serta malam harinya. Kami hanya mengandalkan GPS serta tanya-tanya orang, :D. Untuk kuliner malam hari, kami memilih Tahu Gimbal di wilayah Simpang Lima. Tahu Gimbal ini mirip dengan Tahu Tek hanya saja ada campuran udang yang membuat rasanya semakin nikmat. Harga Tahu Gimbal di Simpang Lima ini hanya sepuluh ribuan. Kemudian untuk tujuan akhir, kami bergerilya ke Pasar Samawis. Pasar Samawis ini mirip dengan Kya-Kya di Surabaya, sayangnya Kya-Kya kini sudah tidak eksis lagi.
Di sepanjang Pasar Samawis kami bisa menemukan banyak orang berjualan dari makanan kecil, minuman unik dengan wadah bohlam lampu dan plastik infus, kain batik sampai ada yang bisa melakukan karaoke lagu Mandarin lho. Puas menelusuri Pasar Samawis dan berbelanja oleh-oleh, kami putuskan untuk kembali ke penginapan. Dan memang di hari pertama ini kami lebih banyak tersesat alias nyasar karena jalanan di Semarang banyak sekali persimpangannya dan kami masih sangat awam. Ditambah, di hari pertama kami sudah disambut hujan deras. Untungnya kami sudah dalam perjalanan pulang.
Petualangan di hari pertama ini cukup melelahkan tapi sangat asyik juga mengingat kami benar-benar merasakan petualangan yang sesungguhnya. Sebelum beristirahat, saya melakukan riset kecil-kecilan wisata sejarah apa yang bisa saya dan kawan saya itu kunjungi. Lawang Sewu, Klenteng Sam Poo Kong dan berburu kuliner khas Leker Paimo sepertinya menarik. Tidak disangka, dua perempuan yang memutuskan jadi petualang tanpa tahu apa-apa, bisa selamat juga. Di sini saya sangat berterima kasih pada internet. Tanpa internet pasti kami buta arah dan minim mendapat informasi.
Bagi yang ingin tahu berapa banyak pengeluaran kami secara global untuk perjalanan dua orang selama 4 hari 3 malam (di luar makan dan belanja oleh-oleh) adalah sebagai berikut:
Tiket kereta api KA ekonomi Surabaya sampai Semarang (PP) 90,000 
Sewa motor : Hari pertama 70,000, berikutnya 60,000 (Total 250,000, per orang jadi 125,000)
Penginapan per malam 250,000 : Total 3 malam jadi 750,000 (Dibagi 2 orang jadi 375,000)
Jadi untuk perjalanan berdua dengan motor dan menjelajah kota Semarang untuk per orang hanya Rp 590,000.
Cukup terjangkau bukan? Apalagi kalau berwisata beramai-ramai pasti jatuhnya lebih murah lagi apalagi tiket masuk objek wisata di kota lumpia ini juga tidaklah mahal. Di postingan berikutnya akan saya ajak anda ke wisata sejarah yang eksotik di Semarang. Happy traveling! :D