Apa yang sudah kita lakukan untuk Indonesia? Jika pelajarnya saja terus mengkritik Kurikulum 2013 dengan alasan terlalu berat, bila generasi mudanya pandai mengkritik capres tapi kuliahnya berantakan, apakah itu tanda cinta kita untuk negara?

Terlepas dari merajalelanya korupsi pejabat, pemilu presiden yang beresiko kisruh hingga kasus berbahaya semacam ISIS, Indonesia sesungguhnya punya banyak generasi berpotensi cemerlang. Sayangnya, kita lebih lihai mengkritik di dunia maya, demo anarkis sampai lupa mandat orang tua. Mereka berdoa di kejauhan agar uang kiriman untuk anaknya selalu cukup, padahal putra-putrinya sibuk memprotes pemerintah sampai lupa jadwal kuliah.

Kita ingin perubahan, bukan? Pertama yanh harus diubah itu mindset kita. Menjadi aktivis tak masalah asal lulus kuliah tepat waktu. Jatuh cinta atau patah hati bukanlah hal gila, asal jangan menjadi candu yang menganggu prestasimu. Suka drama Korea atau maniak Hollywood bukanlah dosa, selama kau tahu budayamu, bahasa daerahmu dan potensi wilayahmu.

Apa yang sudah saya perbuat untuk Indonesia? Saya berusaha lebih mengenal desa saya, belajar bahasa asing untuk memperkenalkan zamrud khatulistiwa, belajar menghargai perbedaan agama, ras dan budaya. Kawan saya yang lain telah jatuh hati dengan kesenian tradisional, ada juga yang menggemari batik dan pewayangan. Tak perlu menunjukkan hal bombastis. Cukup yakini dan tegaskan, bahwa Indonesia adalah tanah air tercinta. Isi kemerdekaan bukan dengan galau semata, tetapi juga dengan peraihan cita-cita.